06.02
Liburan yang Gagal
Oleh : Retno Wi
Dani ngambek. Sampai siang dia tidak mau makan. Ibunya sudah membujuknya berkali-kali. Tapi Dani tetap mengurung diri di kamar. Ia membenamkan mukanya ke dalam bantal. Kalau ada suara yang memanggil namanya, ia pura-pura tidak mendengar. Saat pintu kamarnya diketuk, dia pura-pura tidur. “Ayo, Dani. Makan dulu. Trus mandi. Sebentar lagi Kakek dan Nenek datang lho.” Suara Ibu memanggil dari luar kamar. Dani tidak menjawab. Tangannya malah menutup telinganya rapat-rapat. “Jangan ngambek terus dong.” Dani tetap tidak menyahut. Sepi. Rupanya Ibu pasti sibuk menyiapkan sesuatu untuk menyambut kakek dan nenek.“Pokoknya aku akan terus ngambek.”...
***
Dani ngambek. Sampai siang dia tidak mau makan. Ibunya sudah membujuknya berkali-kali. Tapi Dani tetap mengurung diri di kamar. Ia membenamkan mukanya ke dalam bantal. Kalau ada suara yang memanggil namanya, ia pura-pura tidak mendengar. Saat pintu kamarnya diketuk, dia pura-pura tidur.
“Ayo, Dani. Makan dulu. Trus mandi. Sebentar lagi Kakek dan Nenek datang lho.” Suara Ibu memanggil dari luar kamar. Dani tidak menjawab. Tangannya malah menutup telinganya rapat-rapat.
“Jangan ngambek terus dong.” Dani tetap tidak menyahut.
Sepi. Rupanya Ibu pasti sibuk menyiapkan sesuatu untuk menyambut kakek dan nenek.
“Pokoknya aku akan terus ngambek.” Desis Dani. Hampir saja dani bangkit, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk lagi.
“Dan, buka dong pintunya. Kakak bawa pesenanmu lho.”
“Ha! Itu kan suara Kak Sofi.” Dani segera bangkit dari baringnya. Ia berpikir sejenak. Buka pintu nggak ya? Kalau di buka, berarti acara ngambekku gagal. Tapi kalau tidak kubuka…
“Ya sudah kalau tidak mau, tamiyanya kakak kasih ke Rido aja, ya.”
Diberikan ke Rido? Anak sebelah rumah yang bandel itu? Waduh!
“Iya, Kak! Sebentar.” Dani menyerah, karena ia tidak ingin kehilangan tamiya barunya.
Klek! Pintu terbuka. Senyuman riang muncul dari wajah Kak Sofi. Sebuah bunkusan yang dihias pita cantik disodorkan tepat di depan wajah Dani. Dengan cepat Dani ingin merebut bungkusan itu, namun ternyata Kak Sofi jauh lebih cepat menariknya.
“Kak Sofi boleh masuk nggak?” tanyanya menggoda.
“Iya, deh!” Dani pun membiarkan kakak satu-satunya masuk ke kamarnya yang berantakan.
“Kenapa sih Dan, kok sampe ngembek segala?”
Dani mengerucutkan bibir, menariknya ke kanan dan ke kiri. Matanya menunduk, menatap lantai dengan malas.
“Habis aku nggak jadi ke Banyuwangi. Padahal liburan ini Ayah dan Ibu sudah berjanji akan mengajak ke rumah Paman Andi naik kereta. Aku juga sudah janjian dengan Roki mau bermain-main lagi ke pantai. Ee… tiba-tiba kakek dan nenek datang. Aku kan nggak jadi liburan kalau begini. Semuanya gagal gara-gara mereka!”
“Kakek dan nenek ke sini karena kangen sama Dani. Mereka sayang banget lo.”
“Kalau mereka sayang, seharusnya tidak datang hari ini, dong. Biar aku bisa liburan ke Banyuwangi. Kak Sofi tahu kan, aku pengen banget naik kereta.”
Kak Sofi menarik nafas panjang. Mengelus kepala Dani dengan lembut.
“Teman-temanku di sekolah semua sudah berlibur ke tempat yang jauh di luar kota. Mereka pasti akan bertanya tentang liburanku.” Dani menumpahkan kekesalannya kepada Kak Sofi.
“Trus, Dani mau ngambek sampai kapan?”
Dani terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
Klek!! Pintu terbuka. Wajah Ibu menyembul di balik daun pintu.
“Ayo, keluar. Kakek dan nenek sudah dating.”
Tangan Sofi menarik lengan Dani. Tapi Dani menolaknya.
“Jangan begitu, Dan. Kasihan mereka, jauh-jauh datang kemari.”
“Salah mereka sendiri, aku kan minta mereka datang.”
“Kalau begitu, tamiya ini tidak jadi kakak berikan.”
“Terserah!”
Kak Sofi meninggalkan kamar. Menemui Kakek dan Nenek di ruang tengah. Terdengarsuarayang ramai dari ruangtengah. Dani semakin sebal dengan semua orang di rumahnya. Seandainya di rumah Roki, pasti aku sudah ke pantai. Membuat gunung pasir atau berenang di laut lepas.
Terdengar suara dari perutnya. Lapar. Yah, dari pagi Dani memang belum makan. Mau keluar, Dani terlanjur malu. Kalau tidak keluar, perutnya semakin perih. Gimana, ya?
“Da..an!” SuaraIbuterdengar lagi. “Ada telepon dari Roki.”
Haa..?! Roki telpon? Dengan cepat Dani melempar gulingnya ke lantai. Segera ia berlari ke raung tengah.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Eh, untung kalian tidak jadi ke Banyuwangi.” Suara Roki terdenngar lega.
“Memangnya kenapa? Aku saja sebel nggak jadi naik kereta ke rumahmu.”
“Ya, justru itu. Kereta yang seharunya kau naiki tergelincir dari rel. Banyak lo yang terluka.”
“Benarkah?”
“Iya,kalau tidak percaya lihat saja di televisi.”
Dani merasa lututnya lemas. Dia membayangkan kereta terguling dan penumpang terjatuh dengan banyak luka. Pasti mengerikan!
“Katanya Kakek dan Nenek di situ, ya?”
“Iya.” Suara Dani melemah.
“Wah, seneng dong dikunjungi mereka. Aku juga kangen dengan mereka.”
Dani bingung mau menjawab apa. Padahal sejak mendengar kedatangan Kakek dan Nenek, Dani sudah tidak suka.
“Sudah, ya Dan. Salam buat Kakek dan Nenek.Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.” Tangan Dani gemetar meletakkan telepon.
Sebelum badannya berbalik, sebuag tangan memegang bahu kanan Dani. Dani takut menoleh.
“Dani, ingin berlibur, ya.” Suara Kakek terdengar lembut.
Dani tetap tidak menoleh. Mata Dani memanas, menembus kaca jendela di depannya. Dia merasa bersalah telah memperlakukan Kakek dan Nenek dengan tidak baik.
“Maafkan, Dani Kek. Seharusnya Dani berterimakasih dengan kedatangan Kakek dan Nenek. Kalau tidak, tentu Dani dan yang lainnya akan celaka.” Dani pun menangis terisak dalam pelukan Kakek.
Tangan Kakek menepuk pundak Dani berkali-kali.
“Sekarang Dani tahu, kan. Tidak semua yang kita inginkan itu baik untuk kita. Dan tidak yang semua yang kita benci buruk untuk kita. “
Dani pun mengangguk mengerti. Ia segera menemui nenek dan meminta maaf.
Ah,, ternyata liburan memang tidak harus pergi ke tempat yang jauh. Di manapun kita bisa mengisi liburan dengan menyenangkan. Termasuk di rumah. Dani tak lagi sedih, apalagi Riko dan keluarganya memutuskan akan datang ke rumahnya. Pasti liburan ini semakin menyenangkan Dani.
download cerpen lengkap
Label: Cerpen Anak | 5 Comments
10.16
Pisang yang Hilang
Oleh : Retno Wi
“Iya, aku tadi pagi sudah berangkat ke sini. Tetapi di tengah jalan aku bertemu dengan Bu Simon Ia begitu bingung melihat bayi kecilnya terus menangis karena kelaparan. Pak Simon sedang pergi ke seberang danau dan Bu Simon tidak berani meninggalkan anaknya sendirian.”
“Oh, Bu Simon yang baru melahirkan itu, ya? Kenapa bayinya lapar?”
“Karena sekeranjang pisang yang disiapkan untuk bayinya hilang...”
***
Pagi mulai menyapa Hutan Kedamaian. Lengkung matahari mengintip di balik bukit di seberang danau. Cahaya emas itu menerobos pohon, dahan, ranting dan daun. Menggugurkan tetes-tetes embun ke tanah basah. Menebarkan bau tanah dan rumput yang berbasah embun, menyatu dengan aroma aneka kembang pengisi hutan. Sungguh segar hawa pagi itu. Japut tak ingin melewatkan pagi indah itu sendirian. Segera ia keluar kandang, mengepak-kepakkan sayap, menarik-narik kakinya yang berjalu , lalu berkokok dengan keras.
“Kukuk..Kukuruyuu…uk!!”
“Kukuk..Kukuruyuu…uk!!”
Suaranya menggema ke penjuru langit dan memantul kembali ke bumi. Pohon-pohon memantulkan kokoknya menembus dinding rumah penghuni hutan. Gemanya mengabarkan ke seluruh penghuni Hutan Kedamaian bahwa pagi telah datang.
“Kukuk..Kukuruyuu…uk!!”
“Kukuk..Kukuruyuu…uk!!”
Di sebuah rumah mungil di dalam tanah, Ciko memicingkan mata. Melihat ke arah jendela, untuk memastikan apakah pagi benara-benar tiba. Sebuah cahaya remang terlihat dari lubang jendelanya.
“Rupanya pagi telah tiba! Aku harus segera bersiap.” Bergegas Ciko menuju dapur, menemui ibunya yang selalu bangun sebelum pagi tiba.
“Selamat pagi, Ibu.”
“Selamat, pagi, Nak?” Jawab Ibu Ciko sambil menjerang air.
“Ibu, pagi ini aku akan pergi ke danau. Aku akan bertemu dengan teman-temanku di sana.”
“Tidak menunggu sarapan dulu?”
“Tidak, Bu. Aku takut terlambat.”
“Baiklah, tapi hati-hati di jalan.”
Dengan riang Ciko berjalan menuju danau yang terletak di sebelah selatan hutan. Kadang dia melompat dan menyanyi. Dengan ramah, Ciko menyapa setiap penghuni hutan yang ditemui.
“Hai, Ciko!”
Langkang Ciko terhenti. Telinganya bergerak-gerak mencari sumber suara yang memanggil. Oh, rupanya Mony masih bergelantunngan di atas pohon.
“Hai, Mony. Mengapa kau masih bermalas-malas di atas pohon? Bukankah pagi ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja?”
“Siapa yang malas? Lihatlah, aku sudah mengumpulkan banyak pisang untuk persediaan makanku.” Mony yang tidak suka disebut pemalas menunjukkan sekeranjang pisang yang dimiliki.
“Banyak sekali!” Ciko memandang takjub melihat pisang yang kelihatan segar dan banyak. “dari mana kau mendapatkanya Mony?”
“Tentu kau tahu, tidak ada pisang seperti ini di Hutan kedamaian..” Jawab Mony sambil melempar kulit pisang semaunya. “Pisang ini hanyah tumbuh di Hutan Larangan.”
“Ooh.. begitu ya. Kalau begitu silahkan menikmati makanmu. Aku akan melanjutkan perjalananku.” Ciko kembali melompat dan menyanyi.
“Hei…Hei… Tunggu Ciko! Kau akan pergi kemana?” Teriak Mony sambil menggantungkan kedua tangannya di dahan.
“Aku ada janji bersama teman-teman. Selamat tinggal.” Ciko tidak lagi menanggapi teriakan Mony. Ia takut Mony akan datang dan merusak semua acaranya. Mony memang terkenal sebagai monyet yang suka usil dan jahil.
Suara kecipak air mulai terdengar. Itu pasti Belin dan Nuri. Ciko menebak dalam hati. Dan benar, ia melihat Belin sedang asyik berenang dan berkecipak air danau. Sesekali kepala Belin dimasukkan ke dalam air, dan mengeluarkannya lagi sambil menyemburkan air dari mulutnya.
“Selamat pagi, Ciko!”
“Pagi, Belin? Maaf aku agak telat. Mana Nuri?”
“Aku tidak tahu. Dari tadi aku masih sendirian.” Belin menepi dan berjalan ke arah Ciko.
“Aneh, bukankah Nuri tidka pernah terlambat?’’
“Iya, aku juga heran. Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan Nuri.” Belin tampak sedikit khawatir.
“Semoga saja tidak begitu.”
Tak lama kemudian terdengar cicit burung yang mendekat ke arah mereka.
“Pagi teman-teman. Maaf aku terlambat.” Nuri hinggap di sebuah ranting dengan agak tergesa. Nafasnya tersengal payah.
“Ada apa Nuri? Kenapa kau kelihatan sangat capek? Sepertinya kau baru dari tempat yang jauh.”
Sambil mengatur nafas Nuri menjawab.
“Iya, aku tadi pagi sudah berangkat ke sini. Tetapi di tengah jalan aku bertemu dengan Bu Simon Ia begitu bingung melihat bayi kecilnya terus menangis karena kelaparan. Pak Simon sedang pergi ke seberang danau dan Bu Simon tidak berani meninggalkan anaknya sendirian.”
“Oh, Bu Simon yang baru melahirkan itu, ya? Kenapa bayinya lapar?”
“Karena sekeranjang pisang yang disiapkan untuk bayinya hilang.”
“Apa? Sekeranjang pisang?” Ciko langsung terinngat pertemuannya dengan Mony dengan tadi pagi.
“Kenapa Ciko? Apa kau tahu sesuatu?”
“Tadi aku bertemu Mony. Dia menunjukkan sekeranjang pisang yang masih segar dan kelihatan enak.”
“Pasti Mony yang mencurinya.” Sungut Belin sebal.
“Jangan menuduh dulu. Siapa tahu Mony memang mempunyai pisang yang banyak.” Ciko mencoba meredam kekesalan Belin.
“Tapi, dari mana Mony mendapatkan pisang begitu banyak?”
“Katanya, sih dia mendapatkan pisang itu dari tepi hutan Larangan.”
“Huh! Aku tetap tidak percaya. Dia kan sangat jahil dan usil!” Belin masih bersungut kesal.
“Sudah! Sudah!” Nuri mencoba menenangkan kedua sahabatnya. “Sebaiknya kita cari jalan keluarnya.”
“Lalu bagaimana dengan rencana kita bertiga?” Belin mengingatkan tujuan pertemuan mereka pagi itu. “Bukankah kita harus memecahkan sebuah misteri?”
“Bagaimana, ya? Menurut Ciko gimana?” Nuri menggoyang-goyangkan kepalanya bingung.
“Sebaiknya kita bantu Bu Simon dulu. Kau tidak keberatan kan Belin?”
“Tentu saja tidak. Bukankah kita Trio Ciberi yang kompak dan suka menolong?” mereka bertiga tertawa mendengar kelakar Belin.
“Kalau begitu kita segera ke rumah Mony, sebelum dia keluar.”
Bergegas mereka melangkah ke temapt Mony. Nuri terbang di atas kepala Belin dan Ciko.
Di depan sebuah pohon besar ketiganya berhenti.
“Kenapa sepi sekali?” Belin bertanya lirih. Rumah Mony memang tampak sepi. Tak ada suara yang terdengar.
“Coba kau lihat Nuri. Apa ada sesuatu di dalam rumah Mony?”
Nuri terbang menuju sebuah dahan yang tertutup rumbia kering sebagai dinding dan atap.
“Aku tidak menemukan sesuatu Ciko?” teriak Nuri dari atas.
“Apakah ada pisang di dalam?”
“Hanya ada dua buah pisang biasa Belin. Tidak ada yang lainnya. Keranjang pun tidak ada.” Nuri kembali turun dan bertengger di dahan yang agak bawah.
“Aneh. Tadi Mony menunjukkan sekeranjang pisang itu padaku.” Ciko berkata pelan. “Coba kau ambil pisang itu Nuri.”
Nuri masuk ke rumah Mony dan mengabil dua buah pisang kecil-kecil. Sangat berbeda dengan pisang yang dilihatnya tadi pagi.
“Hanya itu?” Tanya Ciko meyakinkan.
Nuri mengangguk.
“Pisang yang ditunjukkan Mony adalah pisang yang besar dan kelihatan enak.”
“Apa mungkin Mony sudah menghabiskan pisangnya?” Belin mencoba memecah kebekuan suasana.
“Tidak mungkin Belin. Pisang itu sangat banyak. Mungkin baru tiga atau empat hari habis. Dan kalian tahu kan kebiasaan Mony?”
“Kebiasaan apa?” Tanya Nuri penasaran.
“Aduh, Nuri. Mony itu kan sangat jorok.” Serobot Belin.
“Benar. Tapi lihat, tidak banyak kulit pisang di sekitar sini. Hanya ada dua. Aku yakin itu yang dimakannya saat aku lewat tadi.”
“Apa ungkin pisang Mony di curi juga?”
“Entahlah. Sebaiknya kita selidiki masalah ini.”
“Tapi bagaimana dengan nasib Bu Simon dan bayinya?” Nuri kembali mengingatkan sahabatnya. “Pasti bayi kera itu sangat kelaparan.”
“Sebaiknya kau panggil si Daku agar mengantarkan pisang itu ke rumah Bu Simon.“
“Tapi ini pisang milik Mony, Belin?” Nuri agak keberatan.
“Biar saja. Nanti kita bilang saja kalau ketemu.” Jawab Belin sekenanya.
“Iya Nuri. Bayi kera itu lebih membutuhkan. Tidak mungkin kita berjalan ke tengah hutan dan mencari pisang. Butuh waktu terlalu lama, pasti bayi kera itu sudah sangat kelaparan. ” Sambung Ciko bijak.
Nuri bersiul tiga kali. Sepi. Tak ada jawaban. Nuri kembali bersiul. Sebuah suara berderap mendekat ke arah mereka.
“Ada apa teman? Apa ada yang bisa kubantu?” Sapa Daku ramah. Kuda kuat yang biasa menjadi kurir penghuni hutan itu meringkik nyaring.
Ciko pun menjelaskan semuanya kepada Daku.
“Baiklah kalau begitu. Serahkan pisang itu padaku.”
“Berapa kami harus membayarmu?”
“Oh… untuk kalian gratis! Karena kalian selalu membantuku saat kesulitan. Apalagi dua hari ini banyak yang menggunakan jasa kurirku.”
“Apa kau mengantar pisang?” Tanya Nuri.
“Bukan. Aku baru hari ini mengantar pisang. Aku hanya mengantar sampah pelepah tebu dan kulit kelapa ke keluarga kambing.”
“Ingat Daku, jangan berhenti sebelum sampai di rumah keluarga Simon. Jaga juga pisang itu agar tidak jatuh. Kau juga tidak boleh terlalu ceroboh dan……”
“Stop Belin! Kapan aku berangkat kalau kau terus bicara?” Daku mulai gemas kalau cerewetnya Belin kambuh. Segera Daku berlari ke barat menuju rumah keluarga Simon.
“Terimakasih Daku. Hati-hati di jalan. Jangan sampai tersesat ke Hutan Larangan.”
“Sekarang kita lanjutkan rencana kita.” Kata Nuri.
“Tapi aku sangat lapar.” Ciko merasakan perutnya melilit.
“Sebaiknya kita berpencar dulu. Aku akan terbang mencari tahu keadaan dari atas.” Kata Nuri
“Baiklah, aku akan berjalan ke arah utara ke tempat Mony biasa bermain.” Sambung Belin.
“Aku akan ke timur sambil mencari rumput atau wortel segar.”
“Kapan kita ketemu? Dan dimana?” Tanya Belin.
“Kita berkumpul di sini sebelum tengah hari. Aku akan bersiul kalau kita harus berkumpul.”
Ketiganya berpisah. Nuri terbang ke atas menembus pohon-pohon besar dan rindang. Belin berjalan ke utara menuju sebuah sungai kecil dan berenang. Tinggal Ciko sendirian.
“Ah, seandainya aku tadi makan di rumah tentu tidak repot.” Keluh Ciko dalam hati.
“Aha! Bukankah di sebelah timur hutan ada keluarga beruang yang mempunyai warung.” Ciko pun begegas ke arah timur ke arah rumah keluarga beruang. Keluarga beruang itu adalah pendatang baru di hutan Kedamaian. Mereka adalah beruang sawah yang sebelumnya tinggal di tempat yang jauh.
Sesampainya di depan rumah keluarga beruang, Ciko disambut ramah oleh Bu Bersa. Warung itu begitu penuh dan ramai. Sepertinya semakin banyak yang menyukai masakan keluarga beruang.
“Selamat datang Ciko. Aku punya menu baru yang spesial lo.”
“Benarkah Bu Bersa? Kalau begitu aku akan mencobanya.”
“Duduklah. Aku akan ambilkan untukmu.” Tak lama menunggu, Bu Bersa telah kembali dengan semangkuk makanan yang agak asing bagi Ciko.
“Makanan apa ini Bu Bersa?’’
“Cobalah,dulu. Pasti kau menyukainya.”
Dengan ragu Ciko menyendoknya.
“Ehmm… benar-benar enak. Bagaimana membuatnya?”
“Wah, kalau itu rahasia Ciko.” Jawab Bu Bersa sambil meninggalkan Ciko.
Selesai makan, Ciko melanjutkan tugasnya. Ada sesuatu yang membuat Ciko curiga. Dia berkelililng ke sekitar rumah keluarga beruang. Namun dia hanya menemukan kulit kelapa dan bekas perasan tebu. Tidak ada yang lain.
Ciko hampir melangkah lebih jauh, tapi kicauan Nuri telah memanggilnya. Bergegas ciko berjalan ke arah barat, menuju rumah Mony untuk berkumpul dengan Belin dan Nuri.
* * *
“Kau pasti mencurinya!”
“Eh, Mony buat apa aku makan pisang. Kau tahu aku seekor bebek. Tak mungkin aku makan pisang.” Teriak Belin tak kalah keras.
“Siapa lagi kalau bukan kau? Aku tahu kau begitu kesal padaku sejak aku tahu bahwa kau punya kebiasaan….”
“Stop Mony! Jangan kau teruskan.!”
“Ha..ha..ha….” Mony tertawa terbahak-bahak melihat Belin yang pucat.
“Hei…Hei. Ada apa kalian?” Ciko dan Nuri datang hampir bersamaan.
“Dia mencuri pisangku, Ciko.” Teriak Mony.
“Kau salah Mony. Belin tidak mencuri pisangmu.”
“Tapi pisangku tidak ada. Dan aku menemukan Belin di depan rumahku.” Mony meyakinkan Ciko dan Nuri.
“Dengar Mony. Kami bertiga memang di sini sejak tadi.” Ciko pun menjelaskan semua peristiwa yang terjadi.
“Begitulah ceritanya.”
“Lalu siapa yang mengambil pisangku? Aku berjuang keras mengumpulkannya agar tidak setiap hari pergi ke tepi Hutan Larangan yang lebat itu.” Mony sedih sekali meratapi nasibnya. “Kalian tahu pisang adalah makananku. Dan kalian tahu juga bagaimana Hutan Larangan itu.”
“Jangan bersedih Mony. Kami akan membantumu.”
“Iya, untuk itulah kami berkumpul di sini.” Sambung Nuri.
“Memangnya apa rencana kalian?” Mony berranya di sela tangisnya.
“Makanya diam. Jangan menagis terus agar kita bertiga dapat menyampaikan hasil penyelidikan masing-masing.” Belin mengomeli Mony.
Mony hanya diam, tak berselera untuk menanggapi Belin. Ia masih meratapi pisangnya yang hilang.
“Apa yang kau dapat Nuri?”
“Aku terbang mengelilingi Hutan Kedamaian. Tak banyak yang kutemukan. Hanya beberapa pohon kelapa di sebelah barat tidak lagi ada buahnya..”
“Apa ada yang lain?”
“Oh, ya aku ketemu Pak Bersa yang sedang membawa karung menuju Hutan Larangan.”
“Pak Bersa ke hutan Larangan?” Ciko bertanya heran.
“Kalau kau Belin?”
“Aku melihat tanaman tebu yang tumbuh liar di sepanjang sungai telah rusak dan tinggal sedikit.” jawab Belin.
“Sepertinya aku tahu siapa pencurinya.”
“Benarkah? Siapa Ciko? Aku ingin memukulnya.” Teriak Mony antusias.
“Ayo kita ke rumah Bu Bersa.”
Semua bersiap berangkat, termasuk Mony.
“Kenapa kau ikut monyet jahil?” protes Belin.
“Biarkan Belin. Kita perlu Mony nantinya.”
“Kau denngar itu, bebek cerewet.” goda Mony penuh kemenangan.
Sesampainya di rumah Bu Bersa, mereka langsung di sambut.
“Halo anak-anak. Sayang sekali warung sudah mau tutup. Karena semua makanan telah habis.”
“Kami ke sini bukan ingin mencicipi masakan Bu Bersa.” Jawab Ciko.
“Benar, kami datang untuk mencari pisangku yang hilang.” Mony tidak sabar untuk mendapatkan pisangnya.
“Maksud kalian apa?!” Bu Bersa yang semula ramah mulai tidak senang.
“Tentu saja ingin meminta pisangku!” sahut Mony galak.
“Jangan sembarangan bicara monyet jahil! Aku tidak pernah mencuri pisangmu!”
“Tapi Bu Bersa membutuhkan banyak pisang untuk membuat makanan tadi kan?” Tanya Ciko.
Bu Bersa agak gelagapan.
“Memang aku perlu banyak pisang untuk membuat makanan tadi. Tapi aku tidak mencurinya.”
“Lalu dari mana pisang-pisang itu?” selidik Belin.
“Aku tidak dapat mengatakannya. Pergilah, karena sebentar lagi Pak Bersa pulang. Kalian tahu Pak Bersa tidak suka dengan kalian.”
“Tapi aku mau pisangku kembali!”
“Berapa kali aku katakan. Aku tidak mencuri pisangmu monyet jahil!” teriak Bu Bersa sambil membanting pintu.
Brakk!!..
“Huh! Gara-gara kamu semua berantakan.” Sungut Belin sambil memonyongkan mulutnya ke arah Mony.
‘’Ciko, apa kamu yakin Bu Bersa pencurinya?” Nuri masih berputar-putar di udara.
“Aku jadi bingung. Tapi coba kita lihat di sekitar rumah ini, mungkin kita menemukan petunjuk baru.” Mereka segera mengelilingi rumah Bu Bersa. Setelah agak lama mereka kembali berkumpul.
“Mony, apa kulit pisang ini sama dengan pisangmu?” Tanya Nuri sambil melempar sebuah kulit pisang yang tidak utuh.
“Benar! Itu pisangku.” Teriak Mony sambil menunjuk kulit pisang itu dengan sepotong rotan.
“Tapi mengapa tidak ada kulit pisang yang lain?” Tanya Nuri tak mengerti.
“Pelepah tebu dan kulit kelapa yang kulihat juga tidak ada.” Sambung Ciko.
“Eh, bukankah Daku bilang mengantar sampah?” Belin teringat dengan Daku si kuda kurir. “siapa tahu dia bisa memberi petunjuk.”
“Baik, akan aku panggil dia.” Nuri segera bersiul dan bernyanyi. Tak lama kemudian derap kaki Daku telah terdengar.
“Wow, ramai sekali di sini!”
“Daku ceritakan pada kami sampah apa yang kau antar?” Tanya Belin.
“Apa kau juga mengangkut kulit pisang.” Serobot Mony.
Daku melihat Belin dan Mony bergantian.
“Ehm.. rasanya tidak.”
“Bagaimana kau membawa sampah itu?” kejar Ciko.
“Pak Bersa mengikat pelepah tebu dan menggantungkan keranjang yang berisi batok kelapa yang masih berkulit sabut.” Daku diam sebentar, mengingat-ingat sesuatu. “Oh, ya. Tadi ada beberapa sampah yang terjatuh. Aku akan mengambilkannya untuk kalian.” Daku pun berbalik dengan derapnya yang rancak.
“Aku mengerti sekarang.” Ciko mengerak-gerakkan kedua telinganya.
“Maksudmu?” Tanya Mony dan Belin hampir bersamaan.
“Keluarga beruang pencurinya.”
‘Tapi Bu Bersa menyangkalnya.” Sergah Belin.
“Kalau Bu Bersa menyangkal kita laporkan saja pada Pak Kancil. Pak Kancil pasti akan memberikan hukuman yang adil. Dia kan tetua yang bijak.” Nuri memberi pilihan yang disetujui teman-temannya.
“Baiklah. Akan kupanggil Bu Bersa.” Mony segera masuk ke pekarangan rumah keluarga beruang.
Tok! Tok! Tok!
“Bu Bersa! Kembalikan pisangku! Kalau tidak akan aku laporkan pada Pak Kancil!” Teriak Mony keras-keras. “Ayo, Bu Bersa! Cepat kembalikan pisangku dan pisang Bu Simon!”
Tak ada jawaban. Namun dari belakang mereka terdengar langkah berat. Gawat! Sepertinya….
“Hei! Kenapa menggedor pintu rumahku, hah?!” Nuri langsung terbang agak tinggi. Belin merapatkan sayap. Mony menghentikan ketukan pintu. Hanya Ciko yang berusaha tenang, meskipun kedua kaki dan telinganya gemetar. Ternyata benar, Pak Bersa orangnya seram.
“Kami ingin meminta kembali pisang Mony dan Bu Simon.”
“Tidak ada pisang Mony dan Simon di sini! Cepat kalian pergi!” sambil mengibaskan sebatang kayu.
“Pak Bersa tidak bisa mengelak. Kami punya bukti cukup kuat.” Ciko berkata berani.
“Apa bukti kalian, hah?!” tantang Pak Bersa tidak bersahabat.
“Akan kukatakan. Tapi ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?”
“Jika aku dapat membuktikan, maka Pak Bersa harus memberikan ganti kepada Bu Simon dan Mony.”
“Jika tidak terbukti?”
“Jika tidak terbukti, kami akan membantu Pak Bersa bekerja di sawah selama 1 minggu.” Mony terperanjat mendengar usulan Ciko. Mulutnya hampir mengomel, tapi segera ditutup oleh sayap Nuri.
“Baik. Apa buktinya?”
“Nuri tunjukkan kulit pisang tadi.” Nuri segera melempar kulit pisang ke depan Pak Bersa.
“Bu Bersa menggunakan banyak pisang untuk menu barunya. Pisang di Hutan Kedamaian dan Hutan Larangan tidak banyak. Kalaupun ada, pasti masih mentah.” Ciko melihat ekspresi Pak Bersa. “Dan pisang itu telah diambil oleh Mony dan Pak Simon.”
“Kalau ada banyak pisang, tentu kalian dapat menemukan banyak kulit pisang di sini. Tapi mana? Mana, hah?!”
“Tentu saja tidak ada..karena kau menyuruh Daku mengirimkannya ke rumah keluarga kambing.” Mony menjelaskan dengan lebih berani. Di balik pintu, Bu Bersa mendengarkan semuanya dengan was-was.
Tepat saat itu, Daku datang dengan beberapa pelepah dan sebutir kulit kelapa yang masih ada batoknya.
“Bukalah batok kelapa itu, Daku.”
Kaki kuda itu menarik-narik batok kelapa yang masih terbungkus sabut. Belin yang tertarik, mendekati batok kelapa.
“Nah, semua lihat, kan. Ternyata Pak Bersa menyembunyikan kulit pisang di dalam batok kelapa.”
“Huh! Dasar pencuri!” Mony kembali bersungut sambil menunjukkan rotan kepada Pak Bersa.
“Hai Mony! Bukankah rotan yang kau bawa adalah bekas keranjang pisangmu?” teriak Ciko. Semua mata langsung tertuju ke tangan Mony yang masih memegang rotan.
“Benar. Ini rotan keranjangku. Masih ada bekas getah pisang di sini!” Mony semakin girang. “sekarang, kembalikan pisangku Pak Bersa. Atau aku akan melaporkan kepada Pak Lurah Kancil agar mengusirmu dari sini.”
“Jangan, Mony. Jangan lakukan itu. Aku mengaku telah mengambil pisangmu dan pisang Simon. Karena menu baru istriku banyak penggemarnya, sehingga kami butuh banyak pisang.”
“Kalau begitu, kembalikan pisang itu!” Teriak Belin.
“Tidak bisa Belin.” Suara Pak Bersa melemah.
“Kenapa tidak bisa?”
“Karena pisang itu sudah habis. Banyak sekali pembeli yang menyukai. Bolehkah aku menggantinya? Asal aku tidak diusir dari sini.”
“Bisa saja. Bu Bersa harus menyediakan masakan untuk keluarga Simon dan Mony selama 1 minggu.” Ciko membeli usulan.
“Baik Ciko. Aku setuju. Bukan hanya itu. Nuri, Belin dan Ciko juga bisa mendapatkan gratis.”
“Horee…!!” semua berteriak gembira.
“Tapi kalian tidak boleh melaporkan ini kepada Pak Lurah Kancil.”
Semua sepakat. Sejak saat itu, Pak Bersa menjadi baik kepada mereka, meskipun kadang kebiasaan marahnya kambuh. Ah… satu masalah selesai. download cerpen lengkap
Label: Cerpen Anak | 3 Comments
08.04
Ramuan Ajaib
Cerpen Anak : Retno Wi
Malam telah tiba. Yogi segera mempersiapkan keperluannya. Catatan matematika, segelas air putih, sesendok gula dan sedikit garam. Dengan hati-hati tangannya membakar lembar demi lembar catatan matematikanya. Abu bakaran ditampung di piring palstik yang diambilnya dari dapur. Beberapa lembar catatannya terbakar. Dengan hati-hati tangan Yogi memasukkan abu ke dalam gelas sedikit demi sedikit..
* * *
Terdengar gelak tawa kakek dan neneknya. Tapi Yogi tidak ikut tertawa. Ia tetap serius. Dari balik pintu ia merekam semua percakapan kakek dan nenek. Telinganya didekatkan daun pintu, agar suara kakek dan nenek yang mulai tua terdengar jelas. Yogi benar-benar tidak ingin ada sepatah kata pun yang terlewat. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk. Tetapi kadang telinganya dipaksa untuk tegak keika suara kakek dan nenek tidak terdengar jelas.
Esok hari sepulang sekolah, teman-teman Yogi berkumpul dan bersiap ke rumah Mia.
“Gi! Ke mana? Nggak ikut ke rumah Mia?”
Yogi mengelus botaknya beberapa kali. Dengan santai ia melangkah dan bersiul-siul.
“Buat apa ke rumah Mia?” Tangannya berkacak pinggang memandang teman-temannya.
“Ya, belajar dong! Besok kan, ujian matematika. Banyakk rumus yang harus dihafal, lo!”
“Kalian saja yang belajar, aku tidak perlu melakukannya.”
“Kok bisa begitu?”
“Tentu bisa, karena aku telah mendapatkan resep mujarab dari kakekku.”
“Resep, apa sih?” Tanya Mia penasaran.
“Resep agar sukses ujian.”
“Alaa…ah, paling juga disuruh belajar.”
“Wah, kalian salah. Pokoknya ini rahasia!” jawab Yogi sambil mengerling genit.
“Dasar pelit! “ Mia mengomel sebal.
“Jangan-jangan kakeknya Yogi dukun.” Komentar Anton.
“Ha…ha…ha… dipanggil aja Mbah dukun.” Jaka tertawa terbahak-bahak.
“Jangan sembarangan, ya! Kita lihat saja besok.” Yogi pergi sambil menggerutu sepanjang jalan menuju rumah.
Malam telah tiba. Yogi segera mempersiapkan keperluannya. Catatan matematika, segelas air putih, sesendok gula dan sedikit garam. Dengan hati-hati tangannya membakar lembar demi lembar catatan matematikanya. Abu bakaran ditampung di piring palstik yang diambilnya dari dapur. Beberapa lembar catatannya terbakar. Dengan hati-hati tangan Yogi memasukkan abu ke dalam gelas sedikit demi sedikit.
“Yogi.. Sedang apa di kamar, Nak? Kok ada bau benda terbakar dari kamarmu.” Teriak Ibu dari ruang tengah.
Yogi terperanjat. Dia mendekat ke pintu, mengamati lubang kunci dengan seksama. Ia memastikan pintu kamarnya telah terkunci.
“Tidak apa-apa kok, Bu. Yogi hanya mempersiapkan untuk ujian besok.” Yogi pun melanjutkan pekerjaannya. Diaduknya larutan abu yang diberi gula dann garam dengan hati-hati. Ia tidak ingin orang lain mengetahui apa yang sedang dilakukannya di kamar.
“Huek..kk!” Yogi berlari ke jendela, memuntahkan isi mulutnya.
“Ternyata rasanya tidak enak. Bagaimana Kakek dulu meminumnya, ya?” di pandanginya air keruh yang mengisi setengah gelas. Yogi membayangkan dirinya akan menjadi bahan olok-olok teman-temannya jika tidak bisa mengerjakan ujian.
Dengan mata terpejam dia paksa meminumnya sekali lagi.
“Huek…kk!.. Huek..kkk!!”
“Yogi..” Tok..tok…tok.. Suara Ibu di depan pintu. “Ada apa,, Nak?”
Uhuk..kk! Uhuk…k! Yogi terbatuk-batuk.
“Yogi hanya kesedak, Bu.”
“Buka pintunya, Ibu buatkan susu hangat untukmu.” Yogi terkesiap. Segera ia sembunyikan gelas yang berisi ramuan ke dalam lemari buku. Dengan wajah dibuat setenang mungkin ia membukakan pintu untuk ibunya.
“Benar kamu tidak apa-apa?”
Yogi menggeleng. Ibu menaruh segelas susu di meja belajarnya. Yogi was-was, takut ibunya menemukan gelas yang disembunyikan.
“Kakek, di mana?”
“Ada di kamarnya. Kenapa?”
“Enggak, kok Yogi tidak mendengar suaranya.” Tak lama kemudian Ibu Yogi meninggalkan kamar. Yogi mengambil gelas yang disembunyikan di kolong tempat tidur. Diamatinya gelas itu lama-lama.
Kuteruskan, nggak ya? Tanya Yogi dalam hati. Yogi mengelus botaknya berkali-kali. Diambilnya sisa catatan yang belum dibakar. Begitu banyak rumus yang harus dihafalkan. Ah, daripada susah-susah menghafal, mending kuteruskan minum ramuannya.
Kali ini Yogi menyiapkan segelas air putih yang baru diambilnya dari ruang makan. Yogi mencoba meminum lagi ramuan ajaibnya.
“Huekk..k!! Huekk…k!!” Kembali Yogi mual. Dia segera berlari ke jendela dan memuntahkan ramuannya. Dengan cepat tangannya mengambil air putih dan meminumnya.
“Aku benar-benar tak dapat meminumnya.” Yogi mulai pasrah. Wajahnya agak pucat. Kepalanya pusing.
“Aha..! Bukankah kakek dulu juga merasa pusing dan mual? Artinya ramuan ini mulai bekerja.” Yogi sedikit gembira mengingat perkataan kakeknya. Ia pun memilih tidur dengan harapan besok pagi semua rumus yang diminumnya sudah melekat di kepalanya.
* * * *
Jam setengah tujuh pagi. Yogi masih tidur di kamarnya. Berkali-kali ibunya mengetuk pintu. Tapi tak ada jawaban. Dengan sedikit khawatir, tangan ibu Yogi mencoba menarik handel pintu.
Klek. Pintu terbuka. Rupanya Yogi lupa mengunci pintunya setelah mengambil air putih tadi malam. Ibu Yogi memegang keningnya. Panas. Rupanya Yogi demam.
Yogi membuka matanya dengan berat.
“Kamu sakit, Nak?”
“Kepalaku pusing, Bu. Aku juga kedinginan.”
“Kalau begitu, jangan masuk sekolah dulu. Istirahat di rumah saja.”
“Tapi hari ini Yogi ujian, Bu.”
“Nanti Ibu telepon ke sekolah, agar boleh mengikuti ujian susulan.”
Yogi hanya bisa pasrah.
“Ibu telepon ke gurumu, ya.” Yogi mengangguk. Sebelum ibunya keluar Yogi memanggil.
“Bu, tolong panggilkan Kakek, ya.” Ibu Yogi mengangguk dan pergi meninggalkan kamarnya. Tak lama kemudian Kakek telah muncul di depan pintu kamar Yogi.
“Aduh Yogi, mau ujian kok sakit.” Kakek mendekat dan duduk di tepi dipan. Kakek Yogi melihat isi kamar. Matanya langsung tertuju pada gelas yang berisi cairan gelap.
“Yogi minum, kopi?”
Kepala Yogi menggeleng.
Kakek melangkah mendekat meja dan mengangkat gelas. Diciumnya isi gelas denngan hati-hati.
“Kamu membuat rauan ini?”
Yogi mengangguk pelan.
“Siapa yang mengajari?” Tanya Kakek bingung.
Dengan wajah murung Yogi menjawab.
“Dua hari yang lalu aku mendengar Kakek sedang bercerita tentangramuan ajaib kepada nenek. Makanya aku mencobanya.”
“Ha..haa..Haa. Ooh.. itu rupanya penyebabnya. Makanya sekarang Yogi sakit.”
“Tapi Kakek dulu juga sakit kan setelah minum ramuan itu?”
“Ya. Kakek langsung sakit.”
“Dan Kakek jadi pintar matematika, kan?”
“Waduh! Pasti kau tidak mendengarkan dengan lengkap cerita kakek waktu itu. Setelah minum ramuan itu, kakek masih ikut ujian. Dan hasilnya, kakek dapat nilai tiga!.”
“Ha??! Tiga?” Yogi tidak percaya mendengarnya. “Lo, bukankah kakek pandai matematika?”
“Ya, karena setelah itu Kakek rajin belajar agar semua rumus matematika dapat melekat di kepala. Bukan dengan meminum rumus-rumus itu.”
Yogi semakin lunglai. Karena ia berharap dapat pandai matematika tanpa harus susah-susah belajar.
“Yogi ingin menghafal rumus-rumus matematika?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu,, salin semua rumus di bukumu. Lalu tempelkan rumus-rumus itu di dinding kamar, di kamar mandi, dan bawalah kemanapun kau pergi. Dan bacalah jika senggang. Kakek yakin kau akan dengan mudah menghafalnya.”
“Baiklah. Aku akan mencobanya.”
“Ingat, Yogi. Tidak ada jalan pintas untuk pintar. Semua harus dimulai dengan usaha dan kerja keras. Sekarang istirahat dulu.”
Yogi pun mengerti, kalau ingin pintar ia harus belajar, bukan dengan minum ramuan ajaib. download cerpen bag 1 , download cerpen bag 2
Label: Cerpen Anak | 3 Comments
23.34
Sepotong Burger
Cerpen Anak : Retno Wi
Tak lama setelah kedua temannya pergi, Pak burger tampak menggeser gerobaknya. Sarah pun bingung. Dia ingin sekali merasakan Burger itu. Tapi di tasnya hanya ada uang dua ribu perak. Seribu untuk jajan dan seribu untuk dimasukkan kotak amal yang biasa keliling tiap jum'at pagi sebelum pelajaran dimulai.
Sarah berpikir sejenak. Seulas seyum pun segera menghias wajah mungilnya yang dibalut kerudung putih..
“Nah, Sarah. Sekarang kita sudah sampai. Jangan lupa untuk memasukkan uang yang seribu ke kotak infak nanti.”
“Iya, Ma.” Sarah pun turun dari sepeda motor dan mencium tangan mamanya. Tak lupa Sarah mengucapkan salam dan melambaikan tangannya sebelum memasuki gerbang sekolah.
“Doakan aku menang ya, Ma!”
Di halaman, dua sahabat Sarah telah menunggu. Mereka adalah Norma dan Maryam. Tangan mereka segera melambai saat Sarah masuk ke halaman sekolah.
“Sarah! Ke sini!” Teriak Norma tidak sabar. Sarah pun berlari menuju bangku taman tempat kedua sahabatnya duduk.
“Kamu sudah siap untuk lomba nanti siang?” Tanya Maryam pada Sarah.
“Insyaallah sudah. Semua perlengkapan menggambar telah kubawa. Aku juga sudah punya rencana tentang gambar yang akan kubuat. Sebuah air terjun yang jernih, dengan bau yang besar-besar. Di dekat air terjun itu ada sebuah gubuk kecil yang halamnnya banyak ditumbuhi bunga-bunga.” Jawab Sarah sambil duduk menjajari mereka. Sarah memang terpilih
“Wah, sepertinya akan menjadi gambar yang bagus. Semoga menang, ya.” Sambung Norma dengan mata berbinar.
“Eh, Norma. Lihat itu. Pak Burger datang lagi.” Maryam menunjuk seorang lelaki yang menghentikan gerobak di depan gerbang sekolah. Di dalam gerobak yang terbuat dari kaca, tampak tumpukan burger yang lezat. Di kaca tertempel harga burger Rp. 1500 berwarna kuning.
“Iya, dia datang lagi.” Balas Norma. Sarah yang selama ini belum pernah melihat Pak Burger jadi tertarik.
“Emang kalian pernah beli?”
“Iya. Dua hari yang lalu. Rasanya enak banget.”
“Isinya apa?”
“Ada daging ayam, sosis, selada,dan saus. Ehm...mm pokoknya lezat.” Maryam berkata sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Kelihatannya enak.” Gumam Sarah.
“Kamu pengen beli? Beli sekarang saja. Pak Burger nggak datang setiap hari lo.”
“Iya. Mumpung kita belum masuk kelas. Bisa-bisa Pak Burgernya pergi.”
“Norma, aku pengen ke kamar mandi. Anterin ya?” Maryam memegangi perutnya sambil meringis memandang Norma.
“Ayo. Eh, Sarah kita ke kamar mandi dulu , ya.” Sarah pun mengangguk.
Benar saja. Tak lama setelah kedua temannya pergi, Pak burger tampak menggeser gerobaknya. Sarah pun bingung. Dia ingin sekali merasakan Burger itu. Tapi di tasnya hanya ada uang dua ribu perak. Seribu untuk jajan dan seribu untuk dimasukkan kotak infak yang biasa keliling tiap jum'at pagi sebelum pelajaran dimulai.
Sarah berpikir sejenak. Seulas seyum pun segera menghias wajah mungilnya yang dibalut kerudung putih.
“Aha...! Bukankah aku selalu dapat uang saku setiap hari? Kalau uang infak kupakai beli burger lima ratus, minggu depan aku akan dapat menggantinya dengan uang sakuku.” Sarah pun segera berlari menuju gerbang sekolah.
“Pak Burger! Belii...!” Teriakan Sarah membuat Pak Burger menghentikan gerobaknya.
“Beli berapa, Neng?” Tanya Pak Burger sambil membuka kotak kacanya.
“Satu aja, Pak.” Sarah menyerahkan dua lembar ribuan kepada Pak Burger. Kemudian Pak Burger memberinya sekeping uang logam senilai limaratus rupiah.
“Benar-benar burger yang enak.” Sarah memakan burgernya dengan nikmat. Menggigitnya pelan, mengunyah dengan lembut dan menelannya. Tepat saat memasukkan potongan burger terakhirnya, bel tanda masuk berbunyi. Sarah segera bergegas menuju kelasnya sambil membersihkan sisa burger yang menempel di sudut mulutnya.
* * *
Tee...et! Tee...et! Tee...et!
Waktunya istirahat. Itu artinya Sarah harus menyiapkan alat menggambarya untuk mengikuti lomaba menggambar. Namun sarah tidak melakukan apap-apa. Ia hanya menunduk lesu.
“Sarah. Kamu kan harus segera menuju lapangan sekolah. Semua peserta lomba menggambar sedang bersiap-siap menuju ke sana. Nanti kamu terlambat.” Norma menghampiri bangku Sarah yang terletak dua bangku di belakangnya.
Sarah mendongak sambil meringis.Wajahnya tampak pucat.
“Kamu kenapa?” Tanya Norma cemas.
“Perutku sakit sekali. Kepalaku juga pusing.” sarah kembali meletakkan kepalanya ke meja.
“Maryam, sebaiknya kamu menemui Bu Fatimah dan bilang kalau Sarah sakit. Biar aku menemani Sarah di sini.”
Maryam pun bergegas pergi. Tak lama kemudian, Maryam sudah kembali bersama Bu Fatimah.
“Kenapa Sarah?”
“Perut saya sakit, Bu. Kepala saya pusing.”
“Tadi Sarah makan apa?” Tanya Bu Fatimah.
Sarah diam sejenak. Ia teringat burger lezat yang dimakannya sebelum masuk kelas. Sarah pun sadar bahwa ia merasakan sakit perut dan pusing tak lama setelah makan burger.
“Makan burger, Bu.”
“Kalau begitu Sarah ke ruang UKS dulu ya. Sebentar lagi mamamu akan menjemput. Tadi Ibu sudah menelpon mamamu.” Saran Bu Fatimah dengan lembut.
“Tapi saya harus ke lapangan untk mengikuti lomba, Bu.”
“Saat ini kamu harus istirahat. Kalau memaksa ikut, kamu akan tambah sakit. Jadi sekarang kita ke UKS saja sambil menunggu mamamu datang.”
Sarah tak bisa beruat apa-apa. Dengan lemas, ia mengikuti langkah Bu Fatimah menuju ruang UKS. Sarah benar-benar menyesal telah membeli burger dengan uang yang seharusnya untuk infak. Gara-gara burger itu, Sarah tidak dapat mengikuti lomba menggambar. Perutnya jadi sakit dan kepalanya pusing.Sarah hanya bisa menangis menyesali apa yang telah dia lakukan.
“Nah itu, mamamu sudah datang.” Kata Bu Fatimah sambil menunjuk seorang wanita yangs edang berjalan ke arah mereka.
“Mama..!” teriak Sarah sambil berjalan sedikit cepat.
“Kenapa, Sarah?”
“Ma, maafkan Sarah ya, Ma. Hu...hu....huu...” Sarah memeluk mamanya erat sambil menangis.
“Sarah kenapa? Sarah kan nggak salah apa-apa.” Tanya mama bingung.
“Sarah salah, Ma. Sarah nggak menuruti pesan Mama. Tadi Sarah hanya memasukkan uang lima ratus ke kotak infak. Yang lima ratus Sarah belikan burger. Akhirnya Sarah sakit perut dan pusing. Sarah juga nggak bisa ikut lomba menggambar. Sarah menyesal.”
Tangan Mama memeluk Sarah dengan erat. Kemudian Sarah di ajak duduk di bangku.
“Kalau Sarah sakit setelah makan burger itu, tandanya Allah masih sayang sama Sarah.”
“Mana mungkin Allah masih sayang sama Sarah? Bukankah Sarah tidak patuh pada Mama?” Tanya Sarah tak mengerti.
“Karena Allah tidak ingin Sarah mengulangi perbuatan itu, makanya Allah memberi rasa sakit pada Sarah. Kalau Sarah tidak sakit, pasti Sarah ingin mengulangi lagi perbuatan tadi. Allah ingin Sarah menjadi anak yang baik.”
“Apa Allah mau memaafkan Sarah, Ma?”
“Tentu saja. Asalkan Sarah benar-benar menyesal dan tidak mengulangi perbuatan itu.Dan jangan lupa untuk meminata maaf pada Allah. Sekarang ayo kita pulang.”
Sarah menurut. Ia tak peduli lagi dengan teman-temannya yang sedang mengikuti lomba menggambar. Hari ini Sarah telah mendapatkan pelajaran berharga. Sarah bertekad dalam hati untuk tidak jajan dengan uang infak. download cerpen lengkap
Label: Cerpen Anak | 1 Comments
23.15
Hadiah Kejujuran
Cerpen Anak : Retno Wi
“Tak ada cara lain.” Desisnya hampir tak terdengar. Tangannya segera menyobek kertas. Kemudian dengan cepat ia menyalin rumus-rumus yang belum dihafalnya. Dengan tulisan yang acak-acakan, akhirnya Firman pun selesai. Segera ia menuju kasur empuknya. Kertas yang berisi rumus pun di bawanya. Hatinya gelisah. Bagaimana kalau besok Bu Guru tahu saat aku nyontek?...
Firman masih terjaga. Ditemani jam weker dan segelas susu hangat yang baru diantar ibunya. Mulutnya komat-kamit menghafal rumus matematika. Kadang matanya terpejam, berharap rumus yang dihafal dapat melekat di otak. Namun rasa kantuk yang kuat, sering mnghapus hafalannya.
Harus bisa! Tekadnya dalam hati. Firman tak rela gelar juara pertamanya direbut oleh Andi untuk yang kedua kali. Apalagi ayahnya sudah berjanji akan membelikan sepeda baru kalau ia berhasil merebut kembali juara pertama.
“Luas kerucut adalah..., adalah... aahhh...! Lupa lagi!” Keluhnya kesal. Matanya kembali melihat buku diktatnya. Memandangnya dengan alis bertaut, bibir terkatup. Menutupnya lagi. Menghafal lagi. Dan... lupa lagi! Matanya hampir tertutup karena kantuk. Tapi Firman belum menyerah. Ia paksa matanya tetap terjaga. Seteguk susu diharapkan mampu menahan kantuk yang sering menyerang tiba-tiba.
Ia buka lembar yang lain. Matanya kembali memejam.
“Luas kubus adalah 6 X sisi X sisi. Luas tabung ..., luas tabung ..., tuh, kan. Lupa lagi!” Dengusnya sedikit keras. Tangan kanannya dengan malas membuka-buka lagi bukunya. Betapa terkejutnya saat Firman sadar kalau banyak sekali rumus yang belum dihafalnya. Sementara detik demi detik terus berlalu dan hampir menunjuk jam sebelas malam.
“Tak ada cara lain.” Desisnya hampir tak terdengar.
Tangannya segera menyobek kertas. Kemudian dengan cepat ia menyalin rumus-rumus yang belum dihafalnya. Dengan tulisan yang acak-acakan, akhirnya Firman pun selesai. Segera ia menuju kasur empuknya. Kertas yang berisi rumus pun di bawanya. Hatinya gelisah. Bagaimana kalau besok Bu Guru tahu saat aku nyontek? Tanyanya dalam hati. Tapi kalau nggak nyontek, pasti aku tidak bisa. Tapi kalau nyontek, berarti aku curang. Tapi kalau tidak nyontek aku tidak jadi punya sepeda baru. Tapi.... tapi... Sebelum sempat melanjutkan kegelisahannya, Firman tertidur.
* * *
“Firman.” Suara itu mengagetkan Firman. Tangannya gemetar, tubuhnya berkeringat.
“Serahkan kertas itu!” Pinta Bu Guru tegas. Tangannya yang masih gemetar memberikan sesobek kertas yang berisi salinan rumus matematika.
“Karena menyontek, semua nilaimu akan dikurangi.” Kata Bu Guru sambil mengambil lembar jawabnnya. Wajahnya menunduk. Lemas. Malu. Semua teman-temannya melihat ke arahnya.
“Huu... ternyata Firman pinter karena nyontek! Pantes jadi juara.”
“Firman, curang!”
“Firman pembohong!”
“Juara nyontek!”
“Huu...!”
Suara teman-temannya mencibir, mengolok dan mencemooh. Firman tidak tahan lagi. Ia pun berdiri.
“Aku tidak pernah menyontek! Tidak pernah!” Teriaknya keras-keras.
“Firman. Firman. Ayo bangun. Sholat subuh dulu.” Suara Ibu terdengar. Pipinya ditepuk berkali-kali.
“Kamu kenapa? Mimpi buruk ya?” Firman tergagap. Tubuhnya masih berkeringat. Mimpinya benar-benar seperti nyata.
“Ayo, Ayah sudah menunggu untuk sholat.”
“Iya, Bu.” Dengan perasaan yang masih takut Firman pergi meninggalkan kamarnya. Setelah berwudhu, ia bergabung dengan ayah dan ibunya untuk sholat.
Setelah sholat, Firman merenungi mimpinya. Ia pandangi kertasnya.
“Aku tidak boleh melakukannya.” Tekadnya dalam hati. Firman pun melanjutkan belajarnya. Ia tetap berusaha menghafalkan rumus-rumus matmatika. Ia tidak lagi berpikir untuk menyontek. Ia terus komat-kamit dengan mata terpejam. Sesekali matanya membuka untuk memstikan bahwa yang hafalannya benar. Kemudian memejam lagi. Komat-kamit lagi. Sampai ibunya masuk dan mengingatkannya untuk segera mandi dan bersiap-siap sekolah.
“Ayo, Firman. Nanti telat. Ayah sudah mandi, lho.”
Firman bergegas mandi dan bersiap-siap. Dengan sedikit tergesa ia memakai seragamnya. Memakai sepatunya. Menyambar tasnya. Dan berlari menuju halaman di mana ayah telah siap menunggu. Tak lupa ia meremas-remas dan membuang contekannya ke tempat sampah di halaman. Setelah mencium tangan ibunya, ia masuk ke dalam mobil ayah.
“Bu, berangkat dulu. Assalamu'alaikum.” Teriaknya sambil berlalu.
* * *
Dua minggu berlalu. Hari ini adalah pembagian rapot. Ayahnya yang mengambil, sedang firman menunggu di rumah dengan persaan was-was. Ia murung. Sejak ayahnya berangkat sampai sekarang Firman belum ingin makan. Ia yakin akan gagal merebut juara pertama lagi. Tapi Firman pasrah. Toh memang Firman memang sering sakit sehingga tidak masuk sekolah. Di lihatnya jam dinding dengan gelisah.Entah mengapa ia merasa jarum jam itu jadi lambat jalannya. Dengan malas, ia pun melanjutkan membaca buku ceritanya.
“Assalamu'alaikum,” Suara ayah terdengar dari depan bersama mobilnya.
“Wa'alikum salam.” Firman melonjak, menaruh buku ceritanya dan berlari ke halaman.
Ayah berjalan sambil membawa rapot di tangan kanan. Jantung Firman semakin deg-degan. Ia remas-remas tangannya.
“Bagaimana, Ayah?” Tanya Firman cemas.
Ayah diam. Firman semakin yakin, kalau ayah marah. Ia pun menunduk, tak berrani menatap wajah ayahnya.
“Sini, Firman. Lihat rapotmu.” ajaak ayah yang telah duduk di teras. Firman mendekat, dan duduk di sebelahnya. Matanya melihat halaman yang ditunjukkan ayah. Ia menelan ludah saat mengetahui kalau ia hanya mendapat peringkat dua.
“Kamu kecewa?” Tanya ayah.
“Iya, Yah.”
“Kenapa?”
“Karena aku hanya peringkat dua.”
“Tapi Ayah tidak kecewa. Ayah bangga.”
Firman kaget. Ia tak mengerti kenapa Ayah bisa bangga padanya. Padahal ia gagal merebut juara pertama.
“Kamu ingin tahu kenapa Ayah bangga?” Firman mengangguk.
“Karena anak Ayah jujur, itu yang membuat bangga.” Kening Firman berkerut tak mengerti.
“Saat hari terakhir ujian, Firman berniat menyontek, kan?” Firman pun teringat dengan salinan rumus yang dibuatnya. Denga malu-malu Firman mengangguk.
“Kertas contekan yang kamu buang ditemukan Ibu.”
“Ini, kan kertasnya?” Tiba-tiba Ibu datang dengan membawa kertas yang sudah lecek bekas diremas-remas. “Ibu menemukan di tempat sampah.” Lanjut Ibunya.
“Karena Firman jujur, Ayah punya hadiah untuk Firman.” Kata Ibu.
“Benar, Yah?” Tanya Firman dengan mata berbinar gembira.
“Tentu saja. Ayo ikut Ayah.” Firman mengikuti langkah Ayah menuju mobil.
Tangan Ayah membuka pintu tengah mobil.
“Wah, sepeda baru! Aku punya sepeda baru! Terimaksih, Ayah.”
“Ini hadiah kejujuran untuk Firman.”
Firman tidak jadi menyesal karena gagal menjadi juara pertama. Ia gembira karena kejujurannya membawa berkah. Ia berjanji tidak akan menyontek selamanya. download cerpen lengkap
Label: Cerpen Anak | 3 Comments
23.05
Si Hitam Pemalas
Cerpen Anak : Retno Wi
“Ayo, bangun Hitam. Semua ayam sudah keluar kandang.” Si Hitam tetap pulas. Seolah tak ada siapapun di dekatnya.
Dengan sedikit jengkel Si Lurik menarik-narik sayap Si Hitam.
“Ayo, Hitam. Subuh sudah lewat. Ayo bangun.”.
“Uaa…aghh! Ada apa sih?” Tanya Si Hitam dengan mata masih terpejam.
“Hari sudah pagi. Kau bisa kehabisan makanan nanti .”
“Aah… malas. Aku masih ngantuk. Lagian aku tidak akan kehabisan makanan. Pak Tani sedang panen, pasti akan menjemur padi-padinya hari ini.” Kembali Si Hitam meletakkan kepalanya ke tumpukan jerami. Zzz….zzz…..zzz…. Si Lurik yang benar-benar sebal langsung keluar meninggalkan Si Hitam yang memang pemalas ...
Kukuruyuuu…uk!
Kukuruyuuu…uk!
Si Jago Putih berkokok keras. Suaranya memanjang, menembus butanya pagi yang dingin. Gaungnya memanggil fajar yang sebentar lagi muncul menggantikan gelap. Ini adalah tugasnya sehari-hari sebagai pimpinan kandang. Berkokok menjelang fajar untuk membangunkan semua penghuni. Suasana kandang yang senyap langsung riuh. Beberapa induk ayam mulai membangunkan anak-anaknya.
Kukuruyuuu….uk!
Kukuruyuuu…uk!
“Ayo, Bangun! Bangun!” Si Lurik berkokok, membangunkan anak-anaknya yang pulas terlelap.
“Aahh…! Sudah pagi ya?” dengan mata setengah terpejam, anak Si Lurik menguap lebar.
“Sebentar lagi fajar akan datang dan cakrawala muncul dari timur. Artinya rejeki kita juga akan datang.”
Beberapa anak ayam itu pun menggeliat dan memicingkan mata.
Kukuruyuuu….uk!
Kukuruyuuu….uk!
Si Jago Putih berkokok lagi. Kali ini anak-anak si Lurik berdiri.
“Ayo cepat. Jangan sampai kita bangun setelah terbit matahari.” Si Lurik berkeliling kandang membangunkan ayam-ayam yang lain.
Satu per satu ayam-ayam mulai keluar, meninggalkan kandang yang pengap, menyambut fajar yang belum muncul. Si Lurik memperhatikan semua ayam-ayam yang keluar.
“Uugh!… download cerpen lengkap
Label: Cerpen Anak | 2 Comments